-->

Perjalananku bersama FAM ( Fibroadenoma Mammae ) part 1

Dalam cerita kali ini, aku sekedar ingin berbagi tentang pengalamanku dengan tumor jinak jenis FAM  (Fibroadenoma mammae) di bagian payudara. Sebelumnya aku jelasin sedikit dulu tentang FAM (Fibroadenoma Mammae) itu apa? FAM adalah jenis tumor jinak atau benjolan yang tumbuh secara abnormal di dalam payudara. Pada umumnya FAM itu menyerang wanita usia 15-25 tahun menurut laporan Western Breast Sevices Alliance.

Aku akan menceritakan kisahku ini dibagi menjadi 2 part yaitu operasi pertama dan kedua. Ceritaku berawal dari SMK, aku ngeluh ada benjolan yang terdapat pada payudara sebelah kiri sebesar biji kedelai. Namun aku masih berfikir positif dan tidak terlalu memperdulikannya. Setelah aku lulus SMK dan bekerja di daerah Bogor sambil kuliah di Jakarta seminggu sekali, aku merasa benjolan itu semakin membesar seperti bakso yang kecil memiliki tekstur kenyal dan bila disentuh tidak sakit. Akhirnya aku memutuskan untuk memeriksakan diri ke rumah sakit diantar ke salah satu rumah sakit swasta di kota bekasi oleh tante dan ibuku sekitar bulan Maret 2016 lalu. Kenapa aku memeriksakan diri ke kota Bekasi? Karena itu saran dari tante aku.

            Pertama kalinya aku diperiksa, Aku merasa deg-dengan dan takut dengan hasil diagnosa dari dokter. Ternyata benar dugaanku, dokter bilang terdapat banyak sekali tumor yang ada di payudara kanan dan kiri! Aku langsung syok mendengarnya aku kira benjolan hanya satu di bagian payudara sebelah kiri ternyata banyak sekali bahkan ada di dua payudaraku. Sampai-sampai dokter menyebutnya “panen tumor”, Dokter yang memeriksaku sampai tidak percaya juga dan heran kenapa begitu banyak jumlahnya padahal aku makan seperti orang-orang pada umunya dan tidak ada anggota keluargaku yang terkena tumor atau kanker. Setelah diperiksa di ruangan dokter, aku harus melakukan USG untuk melihat keadaan tumor yang terdapat di kedua payudaraku itu. Dokter yang melakukan USG juga merasa kaget kenapa tumornya banyak sekali bahkan terdapat di kedua payudaraku. Aku tak henti-hentinya menangis memikirkan sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Di situlah aku langsung disarankan untuk operasi melakukan pengangkatan tumor jinak dalam waktu dekat.

            Setelah dari rumah sakit itu aku menangis semalaman bahkan sampai aku meminta izin sehari lagi untuk tidak  bekerja karena aku merasa tidak enak badan. Lalu ketika aku masuk kerja esok harinya, Aku menceritakan apa yang sedang menimpaku itu kepada atasan dan rekan kerja. Salah satu rekan kerjaku menyarankan aku untuk melakukan operasi dengan menggunakan BPJS kesehatan dari perusahaan agar meminimalisir biaya yang akan dikeluarkan nantinya. Aku pun langsung mengurus semuanya sendiri. Setelah semuanya beres dan  memutuskan memilih rumah sakit swasta yang dekat dengan tempat tinggal dan tempat kerjaku di daerah Cibinong, Bogor. Aku harus memeriksakan kembali ke dokter yang baru di rumah sakit yang telah aku pilih ditemani oleh kedua orang tuaku.  Dokter membaca hasil USG yang didapat dari rumah sakit sebelumnya tempat aku periksa pertama kali. Setelah itu dokter langsung memberi surat izin operasi dan aku ikuti prosedur dari BPJS untuk bisa melakukan operasi tumor payudara. Kata pihak BPJS bilang aku disuruh menunggu panggilan dari pihak rumah sakit sekitar seminggu.

            Selang tidak sampai satu minggu menunggu, Aku menerima panggilan dari pihak rumah sakit untuk melakukan tes kesehatan sebelum operasi. Siang itu sebelum masuk kerja secara mendadak aku meminta izin kepada atasan. Memang ini sangat mendadak, kapan pun harus siap karena operasi memakai BPJS harus mengikuti jadwal yang diitentukan oleh pihak BPJS itu sendiri. Dengan cepat aku meluncur ke rumah sakit dan mengikuti serangkaian tes kesehatan sendiri tanpa ditemani siapapun. Karena Bapak ada di Jakarta sedangkan ibu di rumah kakak di Serang. Aku bekerja di daerah Bogor itu kost sendiri. Setelah mengikuti beberapa tes kesehatan, Aku ditemani Perawat ke ruang rawat inap, Ia menanyakan dimana pihak keluargaku, Aku menjawab nanti sore Bapakku akan tiba di rumah sakit karena saat itu beliau masih dalam perjalanan. Akhirnya Bapakku tiba di ruang rawat inap dan besok paginya ibuku baru tiba dari Serang dijemput oleh om dan tanteku di terminal kp. Rambutan sampai diatar ke rumah sakit dimana aku di rawat.

Tepat setelah kedatangan keluargaku, pukul 13.00 hari jumat tanggal 22 april 2016, Aku menjalani operasi dengan dibius total sampai tak sadarkan diri. Aku hanya ingat terakhir kali melihat dokter anestesi menyuntikan obat bius ke selang infus di lengan kananku kemudian dibangunkan oleh dokter dan berkata “Bangun mba sudah selesai”. Mendengar kata-kata itu, Aku mulai membuka mata pelan-pelan dan masih terlihat samar-samar, yang aku lihat beberapa orang mendorongku keluar dari ruang operasi. Selama satu jam aku masih merasa pusing dan setengah sadar tapi yang paling aku ingat saat itu yaitu merasakan sakit di kedua payudaraku. Rasanya seperti ditusuk-tusuk oleh pedang berulang kali. Ya memang begitu rasanya sungguh sakit dan ngilu sekali. Pertama kali aku merasakan sakit yang amat pedih aku menangis dan meminta tissue kepada perawat. Bahkan sampai tidak bisa berhenti menangis, salah satu perawat berkata “jangan nangis mba, malu”. Aku sudah tidak peduli lagi apapun yang dibilang perawat itu, yang aku rasakan adalah rasa sakit alami itu.

Pukul 16.00 selang satu jam setelah operasi aku dipindahkan ke ruang rawat inap. Di situ pun aku tak bisa menahan air mata lagi melihat keluargaku yang lain datang menjengukku. Ya memang aku adalah orang yang gampang menangis. Saat nulis cerita ini pun aku menulis sambil menahan air mata agar tidak menetes eh malah tidak bisa ditahan hiks hiks…. Lanjut ke cerita lagi, Di situ keluargaku memberikan nasehat dan support membuatku merasa terhibur dan memiliki semangat lagi. Keesokan harinya kamar yang ditempati oleh 4 orang termasuk aku dalam satu ruangan itu saling membuka gorden agar kita saling berbincang satu sama lain, di situlah kami saling berbagi cerita masing-masing yang sedang kita alami. Ada yang selesai operasi paru-paru, operasi batu ginjal dan cuci darah mingguan. Mereka penasaran apa yang terjadi denganku, Aku pun menjawab aku habis operasi tumor di kedua payudaraku. Sontak membuat kaget orang-orang di ruangan itu apalagi mengetahui aku yang belum menikah ini. Wkwk apa yang salahnya sih ya… bahkan salah satu pasien di situ bisik-bisik ke suaminya dan memasang muka terkejut dan keheranan.


Gambar sekitar 7 tumor yang diangkat dari kedua payudara

Setelah aku dizinkan untuk pulang ke rumah aku hanya diberi istirahat seminggu oleh pihak perusahaan tempat aku bekerja. Beberapa hari setelah operasi, efek dari obat bius kemarin menyebabkan sariawan di mulut yang lumayan parah sampai harus makan dengan bubur. Empat hari kemudian aku diganti perban lalu seminggu kemudian dokter melepas jahitan di 2 goresan pada payudara kiri dan 3 goresan pada payudara kanan. Memang itu termasuk sangat banyak bahkan aku belum menemui orang yang memiliki goresan lebih dari itu. Ketika aku mulai masuk bekerja kembali, aku merasa ada yang aneh dengan dadaku ketika hari mulai siang dan ruangan itu mulai panas maklum aku bekerja di bagian operator mesin di pabrik. Rasa yang agak aneh membuatku langsung pergi ke toilet. aku melihat keringat dari tubuhku menggumpal dan menempel di permukaan kulit sampai-sampai aku memencetnya dengan tanganku sendiri agar keringat itu pecah. Aku tidak tahu penyebabnya apa tapi saat itu aku masih merasakan mati rasa di kedua payudaraku yang masih ada bekas jahitan mungkin karena efek bius karena operasi. Sekitar dua minggu hasil PA (patologi anatomi) dari benjolanku keluar dinyatakan bahwa hasilnya FAM (fibroadenoma mammae). Itu berarti tumor yang terdapat dari tubuhku adalah jinak bukan ganas.

Masih dalam masa kontrol,  Aku memiliki keluhan yang menganggu di salah satu bekas jahitan di bagian payudara kiri. Ibuku menyarankan untuk kontrol sebelum libur lebaran, Aku pun mendengarkan saran darinya. Esoknya aku meminta izin kerja untuk kontrol dadakan, di rumah sakit, aku menceritakan kepada dokter bahwa aku merasa ada rasa ngilu seperti duri yang tertancap di salah satu bekas jahitan bagian payudara kiri. Lalu dokter memeriksaku, dia langsung mengambil gunting untuk mencabut gumpalan benang jahit di ujung goresan itu. Darah mengalir begitu deras, aku saja merasa takut melihat apa yang dilakukan dokter tadi. Tetapi dokter dengan cekatan menyumpal darah itu dengan kapas cukup lama sampai darah itu berhenti. Ternyata selama ini yang membuatku tidak nyaman adalah gumpalan benang di ujung bekas jahitan.

Sekitar bulan oktober, masa kontrol sudah selesai, dokter menjelaskan bahwa tidak ada pantangan makanan untukku namun orang-orang banyak menyarankan bahwa aku harus menjaga pola makan terutama makanan yang mengantung MSG, pengawet atau pewarna lainnya. Aku tidak menerima mentah-mentah dengan apa yang dokter katakana. Demi kesehatan, aku mulai memikirkan pola makan dan gaya hidup. Dokter menyarankan jika memiliki keluhan kembali, aku boleh melakukan pemeriksaan di kemudian hari. Benar saja pada bulan desember aku merasa memiliki benjolan baru di bekas tempat yang terdapat benjolan dulu di bagian sebelah payudara kanan, lalu aku memeriksakan kembali ke rumah sakit itu namun ternyata dokter yang dulu mengoperasi diriku sudah dipidahkan ke rumah sakit yang sama di salah satu cabang di kota lain. Jadi aku harus melakukan penyesuaian dengan dokter yang baru tetapi dokter yang menanganiku kali ini lebih ramah dan lebih muda, dia lebih banyak memberikan saran yang sebelumya aku tidak pernah tahu. Soal benjolan yang aku keluhkan itu hanyalah benjolan yang normal apalagi jika sudah menjelang haid. Benjolan yang membesar itu akan mengecil kembali tidak perlu dipermasalahkan namun jika benjolan yang makin membesar tidak mengecil sama sekali itu baru jadi masalah yang serius. Selain itu, dokter juga menyarankan jika aku setelah menikah nanti disarankan untuk tidak menggunakan pil KB yang dimana akan memperburuk hormon dalam tubuh, lebih baik gunakan spiral. Sekian dulu kisah perjalanan aku dan FAM, next time akan aku ceritakan part 2 nya… terimakasih sudah mendengarkan ceritaku yang panjang lebar ini mungkin buat kalian sampai lelah membacanya hehe. Semoga tulisanku ini bermanfaat untuk kalian semua terutama untuk wanita yang mengalami hal yang sama denganku.

0 Response to "Perjalananku bersama FAM ( Fibroadenoma Mammae ) part 1"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 2